Nampaknya, pada pergantian tahun 2008 menuju 2009—tayangan kaleidoskop di beberapa Stasiun TV Swasta di Indonesia akan menampilkan berita Verry Idham Henyansyah alias Ryan sebagai salah satu peristiwa terheboh sepanjang tahun 2008. Media Massa memegang peranan penting dalam menjadikan kasus Ryan sebagai berita utama—mulai dari Surat Kabar hingga infotainment seakan tidak pernah lelah memberitakan kasus tersebu. Fokus dari pemberitaan rata-rata adalah kepada status Ryan sebagai seorang gay–itu saja.
Pada dasarnya, perilaku media massa terhadap pemberitaan seperti ini wajar-wajar saya. Menurut Ibu saya, minimal ada 3 (tiga) unsur di dalam kasus ini yang membuat heboh. 1) Pembunuhan tersebut bersifat sadis, 2) Pelaku memiliki kelainan seksual, 3) Pelaku cukup rapi dan sempat tidak terdeteksi–bahkan sempat menimbulkan kasus salah tangkap yang memalukan aparat keamanan. Namun, rasanya risih juga apabila melihat adanya unsur berlebihan di dalam pemberitaannya. Berlebihan disini adalah portret yang diberikan beberapa media massa terhadap portret kaum gay itu sendiri–rasanya tuduhan yang diberikan kepada mereka terlalu memojokkan. Bahkan, beberapa pertanyaan di dalam pemberitaan seolah menunjukkan bahwa kaum gay identik dengan imej seorang Ryan.
Padahal, apabila kita melihat kasus Ryan dengan lebih cermat–ada banyak sekali unsur ekonomi di dalamnya. Ryan, walaupun dengan modus operandi lingkaran pertemanan gay, memang terbukti mengambil harta para korbannya. Salah satu korban Ryan adalah seorang Ibu dan anaknya: apakah masih layak potret Ryan serta merta digeneralisasikan terhadap kaum gay secara keseluruhan?
Salah satu teman dan calon mentor saya, Glen Carolus Pattiradjawane, pernah mengatakan bahwa media massa di Indonesia masih perlu melakukan revisi ulang di dalamnya–terlebih untuk membuktikan bahwa media massa Indonesia adalah media yang bebas dan bertanggung jawab. Media massa memiliki kemampuan enlightment alias pemberi kebenaran terhadap publik. Lebih lanjut, media massa juga harus menjadi ruang publik untuk mengembangkan pola pikir dalam memandang suatu hal dengan obyektif.
Media massa yang bebas dan bertanggung jawab adalah indikator bangsa yang beradab. Saya hanyalah blogger amatiran yang mungkin tidak akan menjaring sedemikian banyak atensi publik, yang saya berikan hanyalah sebuah input terhadap media massa mainstream. Mereka di satu sisi mungkin akan berpikir untuk meningkatkan jumlah oplah dan lain sebagainya, namun seyogyanya media massa Indonesia tidak melupakan amanah yang mereka miliki sebagai mediator dalam membangun bangsa Indonesia yang obyektif. Saya harap model pemberitaan seperti kasus Ryan kemarin tidak akan terulang lagi di tahun 2009 ini. Semoga.