Beberapa minggu terakhir ini cukup berat untuk saya. Beberapa hal harus saya hadapi, dan semuanya merupakan ujian bagi kedewasaan saya. Mulai dari tugas/paper yang tidak kunjung selesai, proposal skripsi, mata kuliah HI yang penuh dengan drama dan intrik (baca: Praktek Diplomasi), dan baru-baru ini, sebuah keputusan berat untuk meninggalkan tempat kerja. Pada masa seperti ini, saya bersyukur memiliki support system yang sangat baik—keluarga dan beberapa teman memberikan dukungan dan membuat saya mampu menempuh semua dengan sebaik-baiknya. But I’m not playing a tough guy, here! In fact, ada masa dimana saya berkata kepada diri saya sendiri: kapan semua masalah ini akan berakhir? Secara implisit, saya menyampaikan hal ini kepada salah satu dosen saya: Mas Bonggas.
Mengenai masalah-masalah yang saya hadapi, dosen ini berkata: Memang sudah saatnya. Mas Bonggas menyebutkan bahwa “masalah” merupakan ujian gratis yang seharusnya disyukuri. Apabila untuk menghadapi ujian akademis kita harus terlebih dahulu mengeluarkan segepok uang, maka “masalah” sehari-hari merupakan ujian gratis yang harus kita hadapi dengan lapang dada, besar hati. Karena, setelah “masalah” tersebut telah kita tempuh: saatnya naik kelas!
Dan akhirnya, satu persatu permasalahan tersebut berhasil saya hadapi dengan cukup baik: Satu persatu tugas paper saya selesaikan, Sidang Seminar berjalan dengan lancar (walaupun penuh revisi, but hey! Who doesn’t?), Prakdip telah terlewati dan apabila kalkulasi tidak salah saya mendapat nilai A … dan, saya berhasil mengundurkan diri baik-baik dari pekerjaan saya tersebut (easier said than done). Kunci lain untuk menghadap permasalahan tersebut, mengutip perkataan teman saya Ayu Prita ndiya Pertiwi: Berbesar hatilah! Walaupun banyak masalah, tapi saya rasa hati manusia cukup besar untuk menghadapi semua permasalahan tersebut.
Salah satu masalah yang belakangan ini berseliweran di kampus saya adalah mengenai kemungkinan mundurnya salah satu dosen tercinta kami. Terlepas dari segala upaya yang akan kami lakukan untuk menahan kepergian beliau—saya rasa kami semua juga harus siap untuk segala kemungkinan yang ada. Indeed, ini merupakan ujian besar bagi semua mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan. Kami harus menghadapi masalah tersebut dengan lapang dada dan berbesar hati.