Amahlazwar’s Weblog

:::Refleksi Juni 2007::::Kasus Sutiyoso: Dorong Indonesia dalam Penegakan HAM?

Mei 26, 2008 · & Komentar

Kira-kira pada bulan Mei atau Juni tahun lalu, Indonesia dikejutkan dengan tindakan otoritas New South Wales-Australia terhadap Gubernur Jakarta Sutiyoso dalam kunjungan beliau. Hal tersebut memang merupakan suatu hal yang tidak dapat diterima. Bagaimanapun, sudah seyogyanya seorang pejabat, apalagi Gubernur Ibukota suatu negara untuk mendapatkan perlakuan yang sepantasnya dari otoritas negara yang dikunjunginya. Namun, ada persoalan yang seharusnya lebih mendapatkan perhatian Indonesia, terutama Pemerintah. Citra Indonesia di mata Internasional.
Citra yang dimaksud dalam konteks ini adalah citra Indonesia dalam menangani masalah-masalah yang menyangkut penegakan Hak Asasi Manusia di bumi pertiwi ini. Banyaknya penegakan-penegakan HAM di Indonesia yang masih cacat menambah miringnya pandangan publik Internasional ke pemerintahan Indonesia sendiri. Masalah Tragedi Mei 1998, Tanjung Priok, Semanggi, Tragedi Trisakti, Kematian aktivis HAM Munir, masalah Freeport dsb, merupakan beberapa contoh dari kurang sigapnya otoritas setempat dalam menangani masalah HAM di Indonesia.
Lantas, apakah Sutiyoso layak mendapatkan perlakuan tersebut oleh otoritas New South Wales, Australia? Jawabnya tentu tidak. Kendati demikian, pemerintah harus lebih fokus lagi pada hal berikut: penegakan HAM dan kepastian hukum di negara Indonesia baik Undang-undang yang mengatur maupun pengaplikasiannya yang sesuai dan tidak berat sebelah. Hal ini jauh lebih mendesak, karena hal ini berkaitan dengan image Indonesia di mata Internasional secara menyeluruh.
Merupakan suatu hal yang telah menjadi rahasia publik bahwa oknum-oknum yang bertanggung jawab dapat meloloskan diri dari tangan hukum. Bukti ini semakin membuktikan bahwa Indonesia belum dapat membuktikan kemampuannya dalam menegakkan Hak Asasi Manusia secara internal. Walaupun tindakan yang dilakukan oleh otoritas New South Wales tidak dapat dibenarkan, namun hal ini membuktikan beberapa hal: bahwa kelemahan pemerintah Indonesia dalam menegakkan HAM membuat masyarakat Internasional (terutama yang merasa dirugikan karenanya) menjadi “gerah” dan akhirnya memutuskan untuk bertindak.
Indonesia harus dapat membuktikan kemampuan untuknya menegakkan HAM secara mumpuni sebelum terjadi kasus-kasus di masa mendatang yang semakin mencoreng citra Indonesia di mata Internasional. Tahun ini, sudah beberapa kali Indonesia menunjukkan kiprahnya dalam penegakan HAM melalui badan-badan seperti UNSC dan WHO. Namun, Indonesia juga perlu membenahi imej Indonesia ke dalam selain melalui kiprahnya di kancah Internasional.

Kategori: Indonesia

Project Runway vs. Diplomacy in Practice

Mei 26, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Beberapa dari kalian pasti bertanya-tanya: apa hubungannya antara Project Runway dengan Praktek Diplomasi yang sebentar lagi akan dihadapi oleh mahasiswa Hubungan Internasional Unpar angkatan 2005? Mungkin, beberapa orang lagi bertanya-tanya: Project Runway itu apa? Yah, untuk mempersingkat tulisan: Project Runway adalah sebuah reality show berupa kompetisi mencari desainer kondang Amerika Serikat yang dipandu oleh supermodel Heidi Klum. Acara ini ditayangkan di Discovery Travel and Livingdan merupakan versi desainer dari America’s Next Top Model.

Sekilas, memang tidak ada hubungan sama sekali antara acara ini dengan Praktek Diplomasi. Namun, ada satu episode yang menggelitik Penulis untuk mengkaitkan acara ini dengan mata kuliah wajib tersebut.

Adalah Elisa Jimenez, salah satu peserta Project Runway musim ke-4 yang selalu mendapat sorotan dari para peserta lainnya. Perhatian tersebut bukan ditujukan terhadap prestasi-nya, melainkan terhadap betapa aneh peserta tersebut. Berikut merupakan beberapa keanehan demi keanehan yang dilakukan oleh Elisa Jimenez:

1. Dia selalu menulis buku hariannya dengan cara terbalik (dari kanan ke kiri)

2. Dia lebih suka menjahit dengan tangan daripada dengan mesin (bagi mereka, ini aneh karena menjahit dengan tangan cenderung tidak rapih dan buang-buang waktu)

3. Dia suka meludahi bahan kain untuk baju-nya ketimbang menandainya dengan pensil dll.

Banyak sekali keanehan dari Elisa Jimenez yang membuat peserta lain menjauhinya. Bahkan, Heidi Klum pernah mengatakan: What planet are you from, Elisa?

Nah, dalam salah satu episode, para desainer menerima tantangan untuk membuatkan rancangan baju untuk Sarah Jessica Parker. Tidak seperti biasanya, kali ini mereka diharuskan untuk bekerja secara berpasang-pasangan. Seperti yang sudah bisa ditebak: tidak ada yang mau berpasangan dengan Elisa Jimenez.

Salah satu peserta bernama Sweet P, dianggap ketiban ”sial” karena harus bekerjsama dengan Elisa Jimenez—karena tidak ada pilihan lain dan semua desainer telah memilih pasangannya.

Pada awalnya, Sweet P merasa kesulitan bekerjasama dengan gaya aneh Elisa, namun belakangan, ia mengakui bahwa ide-ide Elisa cemerlang. Akhirnya Sweet P memutuskan untuk tutup kuping dengan semua kritikan terhadap Elisa dan bekerjasama sebaik-baiknya. Hasilnya? Hasil pekerjaan mereka dipuji oleh semua juri dan mereka mendapatkan posisi nomor dua pada tantangan tersebut.

Melihat episode tersebut, Penulis merasakan ada kemiripan dengan metode pemilihan kelompok delegasi Praktek Diplomasi yang ternyata sudah mulai bergulir. Beberapa orang terlihat begitu ambisius dalam memilih rekan kerjanya. Beberapa lagi seolah-olah nyaman dengan judgement mereka yang seolah-olah merendahkan beberapa orang yang dianggap kurang berbakat dalam bidang HI.

Berkaca terhadap episode Project Runway, Penulis berharap agar mereka yang pada akhirnya harus ”bekerja” dengan orang-orang yang mungkin bukan favorit mereka dapat memiliki attitude yang sama dengan Sweet P: pada akhirnya, keberhasilan kamu bukan ditentukan oleh dengan siapa kamu bekerja, tetapi bagaimana kamu bekerja dengan mereka. J

Kategori: Campus Journal