Keberadaan Fatima Bhutto (25) di peta perpolitikan memang memiliki keunikan tersendiri. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa sebagai keponakan dari Benazir Bhutto, beliau justru termasuk pihak yang menentang kembalinya Bhutto ke dalam politik Pakistan. Dalam sebuah artikel di International Herald Tribune, Fatima menyatakan bahwa kembalinya Benazir ke Pakistan merupakan sebuah hal yang paling berbahaya bagi Pakistan sendiri. Dalam opininya yang berjudul “Aunt Benazir false promises” (dimuat di Lost Angeles Times, 14 November 2007) beliau menyatakan bahwa walaupun dirinya memiliki alasan pribadi untuk meragukan slogan demokrasi dari bibi-nya tersebut, dirinya tidak sendiri. Fatima menyatakan bahwa dengan latar belakang Benazir yang pro-Amerika, dukungan terhadap Benazir justru akan semakin men-delegitimasi-kan demokrasi di Pakistan.
Semenjak remaja, Fatima Bhutto telah memperlihatkan bakatnya dalam menulis: usianya baru menginjak 15 tahun ketika koleksi puisinya dipublikasikan. Saat ini, beliau merupakan seorang kolumnis untuk surat kabar Pakistan: The News.
Fatima Bhutto mendapatkan penghargaan untuk buku keduanya, yang berjudul 8:50 a.m. 8 October 2005. Kini, beliau aktif sebagai pengamat politik di Pakistan, dan diramalkan akan menjadi salah satu calon pemain politik di Pakistan.
Ketika ayahnya, saudara laki-laki dari Benazir, meninggal secara mengenaskan di Karachi, Pakistan, Fatima menganggap bahwa Benazir (saat itu masih menjabat sebagai Perdana Menteri) terlibat dalam konspirasi pembunuhan ayahnya, Murtaza Bhutto. Kendati hal ini masih belum dapat dipastikan, keadaan ini menjadi salah satu alasan bagi Fatima untuk menentang Benazir.
Setelah meninggalnya Murtaza, istri beliau Ghinwa Bhutto mendirikan Pakistan People’s Party Shaheed Bhutto, sebagai bentuk sumpahnya untuk meneruskan perjuangan suaminya. Setelah pada tahun 1997, beliau gagal mengalahkan Nusrat Bhutto (Ibu Benazir, pemimpin PPP) dan pada 2002, aplikasi beliau untuk menjadi kandidat pemilu dengan latar belakang akademis, Fatima disebut-sebut sebagai calon pengganti ibunya tersebut, sekaligus memainkan peranan dalam politik Pakistan.
Meninggalnya Benazir Bhutto boleh jadi membawa berbagai macam impact dalam peta perpolitikan Paksitan khususnya. Pertanyaannya sekarang apakah Fatima Bhutto telah memiliki keberanian yang cukup untuk turut ikut serta dalam peta perpolitikan Pakistan?
Latar belakang pendidikan yang unquestionable, bakat menulis serta pengamatan politik beliau yang cerdas dan lantang serta kemampuan beliau untuk mengutarakan pendapat. Fatima Bhutto memiliki kemampuan yang dibutuhkan, namun apakah meninggalnya Benazir kini dapat menjadi trigger tersendiri bagi Fatima yang hingga artikel ini ditulis belum ditemukan statement dari beliau?
0 responses so far ↓
There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.