Amahlazwar’s Weblog

Masukan dari Maret 2008

Fatima Bhutto: the future player in Pakistani politics?

Maret 20, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Keberadaan Fatima Bhutto (25) di peta perpolitikan memang memiliki keunikan tersendiri. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa sebagai keponakan dari Benazir Bhutto, beliau justru termasuk pihak yang menentang kembalinya Bhutto ke dalam politik Pakistan. Dalam sebuah artikel di International Herald Tribune, Fatima menyatakan bahwa kembalinya Benazir ke Pakistan merupakan sebuah hal yang paling berbahaya bagi Pakistan sendiri. Dalam opininya yang berjudul “Aunt Benazir false promises” (dimuat di Lost Angeles Times, 14 November 2007) beliau menyatakan bahwa walaupun dirinya memiliki alasan pribadi untuk meragukan slogan demokrasi dari bibi-nya tersebut, dirinya tidak sendiri.      Fatima menyatakan bahwa dengan latar belakang Benazir yang pro-Amerika, dukungan terhadap Benazir justru akan semakin men-delegitimasi-kan demokrasi di Pakistan.

Semenjak remaja, Fatima Bhutto telah memperlihatkan bakatnya dalam menulis: usianya baru menginjak 15 tahun ketika koleksi puisinya dipublikasikan. Saat ini, beliau merupakan seorang kolumnis untuk surat kabar Pakistan: The News.

Fatima Bhutto mendapatkan penghargaan untuk buku keduanya, yang berjudul 8:50 a.m. 8 October 2005. Kini, beliau aktif sebagai pengamat politik di Pakistan, dan diramalkan akan menjadi salah satu calon pemain politik di Pakistan.

Ketika ayahnya, saudara laki-laki dari Benazir, meninggal secara mengenaskan di Karachi, Pakistan, Fatima menganggap bahwa Benazir (saat itu masih menjabat sebagai Perdana Menteri) terlibat dalam konspirasi pembunuhan ayahnya, Murtaza Bhutto. Kendati hal ini masih belum dapat dipastikan, keadaan ini menjadi salah satu alasan bagi Fatima untuk menentang Benazir.

Setelah meninggalnya Murtaza, istri beliau Ghinwa Bhutto mendirikan Pakistan People’s Party Shaheed Bhutto, sebagai bentuk sumpahnya untuk meneruskan perjuangan suaminya. Setelah pada tahun 1997, beliau gagal mengalahkan Nusrat Bhutto (Ibu Benazir, pemimpin PPP) dan pada 2002, aplikasi beliau untuk menjadi kandidat pemilu dengan latar belakang akademis, Fatima disebut-sebut sebagai calon pengganti ibunya tersebut, sekaligus memainkan peranan dalam politik Pakistan.

Meninggalnya Benazir Bhutto boleh jadi membawa berbagai macam impact dalam peta perpolitikan Paksitan khususnya. Pertanyaannya sekarang apakah Fatima Bhutto telah memiliki keberanian yang cukup untuk turut ikut serta dalam peta perpolitikan Pakistan?

Latar belakang pendidikan yang unquestionable, bakat menulis serta pengamatan politik beliau yang cerdas dan lantang serta kemampuan beliau untuk mengutarakan pendapat. Fatima Bhutto memiliki kemampuan yang dibutuhkan, namun apakah meninggalnya Benazir kini dapat menjadi trigger tersendiri bagi Fatima yang hingga artikel ini ditulis belum ditemukan statement dari beliau?

Kategori: International Relations Issue

The Assassination of Benazir Bhutto: A Tragic Day for Democracy

Maret 20, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

The assasination of Benazir Bhutto is the most shocking moments for the International Relations studies at 2007. The first woman ever to served as a prime minister in any moslem countries, Benazir Bhutto was also the symbolization for the democracy itself in Pakistan. The woman who received degree from Radcliffe College and Oxford University, and also received an honorary degree from Harvard University in 1989, left her husband, Asif Ali Zardari, and her three children: two daughters and a son.      A few days ago, an article from Newsweek Magazine stated that Pakistan is the most dangerous country today. At first, the article gained mixed reviews from the reader, one of the reader even commenting that the most dangerous contry in the world is actually United States: stating the result of Afghanistan and Iraq today as the prove of his/her argument. This assassination could point us the reality of how dangerous the situation in the Pakistan really is.

The late Benazir Bhutto was not blind: on September 26, she stated on the interview for CNN that she was aware of turbulences that may severe her life when she decide to return to her homeland. Still, she decided to step forward in order to prevail the democracy in her country.

“Born is Pakistan, my life mirrors its turbulence, its tragedies and its triumphs,” Bhutto wrote on her memoir “Daughter of the East” as quoted from the obituary on the Jakarta Post.

After military dictatorship an anarchic situation developed, which the terrorists and Osama (bin Laden) have exploited,” Bhutto stated on the interview with Wolf Blitzer, the journalist from the CNN. “They don’t want democracy, they don’t want me back, and they don’t believe in women governing nations, so they will try to plot against me. But these are risks that must be taken. I’m prepared to take them.”

The icon of democracy in Pakistan herself risk her life for the sake of democracy in Pakistan. Although Benazir Bhutto has left us all, her story of struggle for democracy will never be forgotten. The writer especially hopes that her spirit will always be a pedestal for the next episodes in prevailing democracy in Pakistan.

(JKTPOST/CNN/IHT)

Kategori: International Relations Issue