Amahlazwar’s Weblog

My Version of Dee’s ‘Malaikat Juga Tahu’

Maret 23, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

I’ve been a fan of Dewi ‘Dee’ Lestari’s work for AGES …

Well, especially her latest piece: “Malaikat Juga Tahu” thingy… And I was wondering: ‘What if someone actually reply this song?”

I mean … just like when someone replied Ne-Yo’s ‘So Sick’ or when Ne-Yo himself replied Little Bit’s ‘Forget About Me’. Well, here it goes … my version of Malaikat Juga Tahu.

“Lelahku, jadi lelahmu juga
Bahagiaku, bahagiamu pasti
Berbagi takdir kita selalu
Kecuali tiap ku jatuh hati

Aku tahu, hampir habis dayamu
Namun kini ku tahu, ada cinta yang nyata
Setia hadir setiap hari
Yang tak tega, membiarkan ku sendiri
Meski seringkali ku malah asyik sendiri

Kini ku melihat, terkadang malaikat, tak bersayap tak cemerlang tak rupawan
Namun kasih kamu, tak perlu kau adu
Malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya

Hampaku takkan hilang semalam oleh pacar impian
Namun inikesempatan
Ku tahu, kita tidak sempurna
Namun, pantas untuk dipuji

Percaya dirilah, memang kamu yang sejati

Karena ku melihat, terkadang malaikat tak bersayap tak cemerlang tak rupawan
Namun kasih kamu, tak perlu kau adu
Malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya

Aku selalu meminta terus kau temani
Aku menyesal, meminta wajahmu diganti
Jangan engkau pergi, aku tak sanggup sendiri

Kini ku melihat, terkadang malaikat tak bersayap tak cemerlang tak rupawan
Namun kasih kamu, tak perlu kau adu
Malaikat juga tahu kamu akan jadi juaranya”

Anyway, Dee… please don’t get offended … it’s just me and my ‘can’t stay put’ mind…

Hope you guys like it!

XOXO,

Mahel

→ Tinggalkan KomentarKategori: Uncategorized

WTA Tour: Jelena Dokic—Kembalinya si Anak Hilang

Januari 25, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Turnamen tenis Wimbledon 1999 merupakan saksi dari lahirnya calon bintang tenis baru: Jelena Dokic. Secara mengejutkan, petenis Australia kelahiran Kroasia itu menyingkirkan petenis no. 1 dunia Martina Hingis dengan skor yang amat telak: 6-2, 6-0. Kekalahan ini amat mengejutkan pecinta tenis—Hingis pada saat itu disebut-sebut akan membalas kekalahannya dari Steffi Graf di final Prancis Terbuka beberapa pecan sebelumnya. Jelena, peringkat 129 dunia membuat Hingis tidak berdaya dengan pukulan-pukulannya yang flat dan tajam. Padahal, umur Jelena Dokic baru menginjak 16 tahun. Martina Hingis yang hanya lebih tua 2 tahun sudah menjuarai 5 gelar Grand Slam termasuk Wimbledon pada tahun 1997.

Karier Jelena Dokic menanjak di tahun-tahun berikutnya—dia sukses meraih peringkat 4 dunia. Publik menganggap hanya tinggal menunggu saja untuk seorang Jelena menjuarai turnamen Grand Slam dan menjadi petenis nomor 1 dunia. Sayang, kenyataannya tidak seindah demikian. Permasalahan keluarga terutama sang ayah Damir Dokic yang kerap membuat masalah, pergantian status kewarganegaraan serta cedera yang bertubi-tubi membuat Jelena kehilangan pegangannya. Bahkan, pada tahun 2002-2003, kariernya menurun. Bahkan, Jelena sempat terpuruk ke peringkat 394 dunia.

Pada Australia Terbuka 2009, Jelena Dokic kembali menunjukkan bahwa bakat yang dimilikinya pada tahun 1999 belum hilang. Jelena, kini 25 tahun dan berperingkat 187 dunia, justru membabat semua petenis muda berbakat seperti dirinya dulu. Tidak tanggung, Tamira Paszek, Anna Chakvetadze, Caroline Wozniacki dan Alisa Kleybanova yang semuanya berumur 18-20 tahun dibabatnya satu persatu. Penonton Australia sangat terkesan dengan Dokic—kini dia kembali menjadi warga negara Australia—dan menjulukinya Jelena “The Ripper” Dokic (Jelena Sang Pembantai).

Kisah si anak hilang merupakan kisah yang selalu menarik untuk dicermati di dalam dunia tenis. Sebelumnya, Jennifer Capriati telah menunjukkan hal tersebut. Bahkan, Capriati memiliki masalah yang serupa dengan Dokic—cedera dan masalah keluarga. Mereka merupakan contoh hidup bahwa bakat itu tidak pernah hilang dan selama anda mau berusaha, anda dapat kembali ke masa kejayaan anda! Welcome back, Jelena Dokic!

→ Tinggalkan KomentarKategori: Uncategorized
Ditandai:

Islam, Demokrasi dan Politik Luar Negeri Indonesia

Januari 8, 2009 · & Komentar

Salah satu posisi tawar Indonesia di dalam perpolitikan luar negeri adalah posisi kita sebagai negara dengan penduduk mayoritas muslim. Hal ini ditambah pula dengan kenyataan bahwa Indonesia merupakan negara penganut sistem demokrasi. Media massa internasional kerap menyatakan bahwa masyarakat muslim di Indonesia memang berbeda dengan mayoritas masyarakat muslim di daerah timur-tengah—atau lebih akrab disebut Muslim Demokrat. Keadaan internal ini dapat kita lihat di dalam implementasi politik luar negeri Indonesia terutama pasca-1998.

Apabila kita membicarakan Islam di dalam Politik Luar Negeri Indonesia, maka kita berbicara tentang dua kutub yang berbeda. Pada kutub yang pertama, Islam merupakan sebuah aspek yang tidak dapat dipisahkan dari politik, seperti yang diucapkan oleh Wahab Chasbullahh. Sementara pada kutub kedua, Abdurrahman Wahib pernah mengatakan bahwa Islam merupakan kekuatan moral namun bukanlah hal yang absolut harus dicampur aduk dengan politik. Terlepas dari perspektif apa yang dipergunakan, Islam memang memiliki pengaruh yang amat kuat di dalam politik Indonesia—baik dalam maupun luar negeri.

Indonesia memiliki posisi unik di antara negara-negara OKI lainnya. Indonesia menempatkan dirinya sebagai negara dengan mayoritas penduduk muslim terbesar di dunia namun dapat melaksanakan demokrasi dengan baik. Keberadaan Indonesia tersebut merupakan posisi tawar yang kuat bagi Indonesia, terutama dalam melakukan konferensi multilateral seperti penyelesaian kasus Iran, OKI dll. Indonesia dipuji karena berhasil menggabungkan demokrasi dan Islam—sesuatu yang belum dapat dilakukan oleh negara-negara OKI lainnya. Keberhasilan ini pula yang menjadi salah satu faktor pendukung Indonesia dalam memprakarsai Bali Democratic Forum beberapa waktu yang lalu.

 

Kendati demikian, melihat kembali pada tahun 2008 lalu, Indonesia perlu mencermati beberapa hal ini menjadi sorotan media massa. Pertama, kasus Ahmadiyah yang membuktikan bahwa toleransi sejumlah kelompok muslim di Indonesia masih harus dipertanyakan. Terlepas dari benar atau tidaknya ajaran Ahmadiyah ataupun interpretasi mereka akan Al-Quran yang dinilai salah oleh beberapa pihak—Indonesia sebagai Negara yang menganut demokrasi sebaiknya tidak melakukan sebuah penilaian mengenai keberadaan mereka.

 

Identitas agama sebagai identitas politik merupakan fenomena yang telah lama menjadi isu di Indonesia—bagaimana topeng agama dipergunakan sebagai faktor pemicu untuk mencapai kepentingan sejumlah pihak. Lantas, apabila kedudukan Islam di dalam Indonesia masih terpaut antara kesemuan dan politisasi, apakah status keberadaan Indonesia sebagai negara demokratis dengan mayoritas penduduk muslim masih layak untuk dipertahankan?

Kedua, ketika perdebatan Ahmadiyah belum terselesaikan, pada peringatan Hari Kebangkitan Pancasila 1 Juni kemarin telah terjadi satu tindak kekerasan yang semakin mencoreng nama baik Islam di mata Internasional. Kekerasan tersebut dilakukan oleh kelompok Front Pembela Islam (FPI) terhadap sebuah aksi damai yang dilakukan Aliansi Kebangsaan dan Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) di depan Monumen Nasional (Monas) Jakarta. Sedikitnya 20 orang mengalami luka parah dalam aksi brutal tersebut—banyak di antaranya merupakan kaum perempuan. Ironisnya, para aktivis AKKBB mengaku bahwa materi acara yang mereka lakukan tidak lebih dari sekedar peringatan Hari Kebangkitan Pancasila saja. Kekerasan FPI merupakan suatu hal yang tidak dapat diterima—tidak ada ajaran agama Islam yang membenarkan kekerasan sebagai bentuk penyelesaian suatu masalah. Penulis yakin bahwa kelompok-kelompok Islam yang lain juga tidak membenarkan tindakan sepihak FPI tersebut—penyebaran bibit kekerasan dengan dalih agama dikhawatirkan akan mewarnai kehidupan sosial Indonesia di masa mendatang.

Ketiga, terkait wacana Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk mengeluarkan fatwa haram terhadap golongan putih (Golput) pun merupakan suatu hal yang tidak dapat diterima. Indonesia merupakan sebuah negara pluralis dan tidak memerlukan hal tersebut—terlebih apabila Indonesia ingin mempertahankan imej sebagai Negara demokrasi dengan mayoritas agama Muslim. Bagaimanapun, kasus ini menunjukkan bahwa Islam seolah terlalu memaksakan masyarakat di dalam kehidupan berpolitik—sangat bertolak belakang dengan harmonisasi antara Islam dan demokrasi itu sendiri.

Indonesia merupakan sebuah Negara demokratis dengan populasi penduduk mayoritas muslim terbesar di dunia. Hal ini kerap dipergunakan sebagai posisi tawar Indonesia di dalam kebijakan-kebijakan politik luar negeri-nya. Selama tahun 2008, Indonesia pernah menunjukkan prestasi tersendiri terkait dengan posisi tawarnya: Indonesia berani menunjukkan sikap abstain terkait pembahasan Resolusi 1803 terkait dengan Sanksi Iran. Padahal, ke-14 delegasi menunjukkan sikap pro terhadap penjatuhan sanksi tersebut. Selain itu, Indonesia juga telah berinisiatif untuk menyelenggarakan Bali Democratic Forum sebagai salah satu cara untuk memperlihatkan bahwa Indonesia dapat mengadakan sebuah pertemuan untuk berbagi pandangan tentang demokrasi bersama negara lain.

Pada tahun 2009 ini, Indonesia harus terus memperkuat posisi tawarnya sebagai Negara pertama yang mampu mengkombinasikan Islam dan Demokrasi di pentas Internasional. Penulis berharap agar Indonesia dapat memperbaiki keberadaan Islam di Indonesia terkait dengan beberapa indicator yang telah disebutkan. Islam merupakan aspek yang mencerahkan masyarakat di dalam kehidupan—bukan instrument politik bagi kelompok-kelompok tertentu. Apabila hal ini terus dibiarkan, maka Islam bukan lagi merupakan nilai yang mendukung demokrasi namun justru mengekang proses dari demokrasi itu sendiri. Indonesia pun akan kehilangan posisi uniknya di dalam dunia internasional.

→ 7 CommentsKategori: Uncategorized

Refleksi 2008:::Kebebasan Pers Indonesia yang Bertanggung Jawab: Kasus Verry Idham Henyansyah alias Ryan

Desember 29, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Nampaknya, pada pergantian tahun 2008 menuju 2009—tayangan kaleidoskop di beberapa Stasiun TV Swasta di Indonesia akan menampilkan berita Verry Idham Henyansyah alias Ryan sebagai salah satu peristiwa terheboh sepanjang tahun 2008. Media Massa memegang peranan penting dalam menjadikan kasus Ryan sebagai berita utama—mulai dari Surat Kabar hingga infotainment seakan tidak pernah lelah memberitakan kasus tersebu. Fokus dari pemberitaan rata-rata adalah kepada status Ryan sebagai seorang gay–itu saja.

Pada dasarnya, perilaku media massa terhadap pemberitaan seperti ini wajar-wajar saya. Menurut Ibu saya, minimal ada 3 (tiga) unsur di dalam kasus ini yang membuat heboh. 1) Pembunuhan tersebut bersifat sadis, 2) Pelaku memiliki kelainan seksual, 3) Pelaku cukup rapi dan sempat tidak terdeteksi–bahkan sempat menimbulkan kasus salah tangkap yang memalukan aparat keamanan. Namun, rasanya risih juga apabila melihat adanya unsur berlebihan di dalam pemberitaannya. Berlebihan disini adalah portret yang diberikan beberapa media massa terhadap portret kaum gay itu sendiri–rasanya tuduhan yang diberikan kepada mereka terlalu memojokkan. Bahkan, beberapa pertanyaan di dalam pemberitaan seolah menunjukkan bahwa kaum gay identik dengan imej seorang Ryan.

Padahal, apabila kita melihat kasus Ryan dengan lebih cermat–ada banyak sekali unsur ekonomi di dalamnya. Ryan, walaupun dengan modus operandi lingkaran pertemanan gay, memang terbukti mengambil harta para korbannya. Salah satu korban Ryan adalah seorang Ibu dan anaknya: apakah masih layak potret Ryan serta merta digeneralisasikan terhadap kaum gay secara keseluruhan?

Salah satu teman dan calon mentor saya, Glen Carolus Pattiradjawane, pernah mengatakan bahwa media massa di Indonesia masih perlu melakukan revisi ulang di dalamnya–terlebih untuk membuktikan bahwa media massa Indonesia adalah media yang bebas dan bertanggung jawab. Media massa memiliki kemampuan enlightment alias pemberi kebenaran terhadap publik. Lebih lanjut, media massa juga harus menjadi ruang publik untuk mengembangkan pola pikir dalam memandang suatu hal dengan obyektif.

Media massa yang bebas dan bertanggung jawab adalah indikator bangsa yang beradab. Saya hanyalah blogger amatiran yang mungkin tidak akan menjaring sedemikian banyak atensi publik, yang saya berikan hanyalah sebuah input terhadap media massa mainstream. Mereka di satu sisi mungkin akan berpikir untuk meningkatkan jumlah oplah dan lain sebagainya, namun seyogyanya media massa Indonesia tidak melupakan amanah yang mereka miliki sebagai mediator dalam membangun bangsa Indonesia yang obyektif. Saya harap model pemberitaan seperti kasus Ryan kemarin tidak akan terulang lagi di tahun 2009 ini. Semoga.

→ Tinggalkan KomentarKategori: Indonesia

Remember, Remember … The 28th Of December

Desember 27, 2008 · 1 Komentar

Well, it’s been quite awhile since I posted my last blog. There are things I had to cope with though. Such as, re-submitting one of my final exams for The Political Economy of Development subject for our dearly beloved Mr. Sapta Dwikardana (which ended-up with my friend Ayu and I posted a note in facebook to compare the resemblances between Mr. Dwikardana and Keanu Reeves). Anyway, there’s some reason why I hadn’t write for some period of time. 

Remembering the 28th of December—it’s the title of my latest article because 28th December is never really a good day for me. Although the day before 28th is quite a joyful day since it’s my eldest brother birthday, the 28th is quite a sad moment for me and my family. This is the exact date—four years ago—we lost one of our close relatives in the Aceh Tsunami. My Uncle Erwin and three cousins Lidya, Ilona and Diana lost their lives in this tragedy. Our Auntie survives the incidents while her eldest son Yoga at the time was studying in Bandung. Uncle Erwin was about my Father’s age while Lidya, Ilona and Diana were, like, my elder brothers, me and my little sister’s age respectively.

The Aceh Tsunami—or the world remembers this tragedy as the Ocean Sea Tsunami—indeed took time on 26th of December. We heard the news which struck us in horror on the following days. Auntie, the only survivor, was actually taking a walk with our Uncle when the giant waves sweep them. She said when she woke up from her unconsciousness, she’s on the roof of someone’s house—she also realizes that our Uncle is gone. When she finally went home, her house was gone into pieces—we learned that our three cousins gone.

My family in particular would never forget this lost. We are quite close with them. Especially when my father worked as a medical doctor in Aceh for several years, we quickly become bounded with them. I was born a year before my family left Aceh so perhaps I had the least memories about them. Nevertheless, when we meet them several years later on a family event—I clicked with them instantly. Yoga clicked more with my elder brothers, though. While Lidya was one of my cousin which encouraged me to took International Relations as my major—she also support me when I addressed my anxiety that I chose Social fields instead follow my father’s step. Ilona was about my age so I guessed she and I quite click right a way when we met (FYI, we were just toddlers back then). Diana was close with my little sister at the time—she’s a lovely little girl though.

Remember, remember the 28th of December—my family will always remembers this unique family. My mother once told me that these unpleasant incidents ought to be memorized as lessons throughout our life—as a reminder that anything in this world are rent-able. We should remember–that in a split seconds, almost everything we had could be taken away. And that’s why we should be thankful for everyone we had and every single moment we had in our life with them. We should never take it for granted because we never knew when we might loose them.

We love you Uncle Erwin, Lidya, Ilona and Diana—we would never forget you because you guys are surely always be missed. May God richly bless you—rest in peace. See you on the other sides in this life—catch you later!

 

→ 1 CommentKategori: Uncategorized

Obituari: Ali Alatas, Bapak Diplomat Indonesia (1932 – 2008)

Desember 11, 2008 · & Komentar

Mantan Menteri Luar Negeri Indonesia, Ali Alatas meninggal pada hari Kamis, tanggal 11 Desember 2008 pukul 07.30 di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura. Ali Alatas meningalkan istri, Yunisa Alatas, tiga puteri dan delapan cucu. Ali Alatas sebelumnya dikenal luas sebagai Menteri Luar Negeri Indonesia pada tahun 1988 sampai 1999—kepiawaian beliau di dalam dunia diplomasi membuatnya sempat dinominasikan sebagai Sekjen PBB oleh sejumlah Negara Asia pada 1996.

Beberapa karier seorang Ali Alatas meliputi: Korektor Harian Niewsgierf (1952-1952), Redaktur Kantor Berita Aneta (1953-1954), Sekretaris II Kedutaan Besar RI di Bangkok (1956-1960), Direktur Penerangan dan Hubungan Kebudayaan Departemen Luar Negeri (1965-1966), Konselor Kedutaan Besar RI di Washington (1966-1970), Direktur Penerangan Kebudayaan (1970-1972), Sekretaris Direktorat Jenderal Politik Departemen Luar Negeri (1972-1975), Staf Ali dan Kepala Sekretaris Pribadi Menteri Luar Negeri (1975-1976), Wakil Tetap RI di PBB, Jenewa (1976-1978), Sekretaris Wakil Presiden (1978-1982), Wakil Tetap Indonesia di PBB, New York (1983-1987), Menteri Luar Negeri (1987-1999) Penasihat Presiden untuk Urusan Luar Negeri (2001-2004).

Salah satu filosofi beliau yang ditulis di dalam buku kumpulan pidato-nya: A Voice For Just Peace, adalah A Diplomat work is never done. Penulis berharap agar dirinya serta rekan-rekan Mahasiswa Hubungan Internasional dapat meneruskan perjuangan beliau yang belum tercapai. Seperti salah satu pidato beliau: “Hanya perdamaian yang didasarkan pada keadilan, pada pengakuan akan kesetaraan hidup manusia, keabsahan semua aspirasi manusia, akan menjadi perdamaian yang sejati”.

Indonesia memang kehilangan salah satu pionir diplomat handalnya, namun Penulis yakin kemampuan beliau dalam meneruskan wajah diplomasi Indonesia yang bebas dan aktif dapat menginspirasikan calon diplomat-diplomat muda Tanah Air untuk meneruskan prestasi beliau. Rest in peace, Mr. Ali Alatas, may God be with you…

- Dari berbagai Sumber -

→ 3 CommentsKategori: Indonesia

The “Sinetron”ization of Indonesian Movies

Desember 9, 2008 · & Komentar

Lately, I am seeing a little epidemic around Cihampelas Street—and perhaps, other Streets as well: Many large Movie posters with outrageous titles. Hmmm, the titles such as “Mas Suka … Masukin Aja”, “MBA (Married By Accident)”, “Merem Melek” and “Kawin Kontrak Lagi”. Previously, another title goes, like, “Mimpi Basa hhh” or “ML (Mau Lagi)” or else. Well, surely the answer of all these is for the sake of profits etc … but still! Using common phrase that used by so-called “ABG Labil”: PLEASE, DONG!


I am one of Indonesian Movie lovers actually, because lately there are many impressive movie-makers in Indonesia such as Mira Lesmana, Riri Riza, Joko Anwar to name of few. There efforts in regaining the prominence of Indonesian Movies are inevitable. But now, these kinds of movie-title slightly make me raise eyebrows: “What happened?” I mean, when I see titles such as “Maaf Saya Menghamili …” etc, I do still get the joke (I still a little bit concern about the title, though).

All of the sudden, these kinds of movie emerged which worries me, not about the title but also the quality of the movie itself. The format of those movies basically using the same format used to make a “Sinetron”. Also, the screenplays are based on “Sinetron” also. Well, I do get the point of the “minimizing spending and maximizing earnings” … but, please: Indonesian Movie should have an identity instead of fully profit-seeking only (please emphasized the word “only”).

I am just hoping that this epidemic won’t last long, because I do believe that Indonesian Movie community has a lot of talents. I still had faith in Indonesian Movies… Movies such as Laskar Pelangi, Ayat-Ayat Cinta etc has proven that we don’t have to rely on outrageous title and “Sinetron” kind of storyline to make a good movie. Sometimes we do need something controversial in order to gain attention, however, we also need to make a good quality movie rather than ‘controversial-but-cheesy-movie’ only.

→ 3 CommentsKategori: Entertainment

The Great Debate of Unpar’s International Relations

Desember 4, 2008 · & Komentar

This is not a very good week to me: I got an illness due to the rain. But the highlight of my week is an outrageous writing on one of my alumni on Unpar. Well, I had to admit that I like her style of writing. But then, I think her latest article has gone too far. H mm, essentially, her article addressed her opinion about one of the group in Facebook entitled “I GO TO HI UNPAR, THAT’S WHY I’M BETTER THAN YOU!”.

Okay, before I went there, I need to tell you guys that I really like my alma mater: Unpar’s International Relations which I had dreamed since high school. And even I slightly raised my eyebrows when I see the “THAT’S WHY I’M BETTER THAN YOU!” part it even disturb me more when I saw her article (you can read here: http://namakutephy.com/?p=533).

Well, I admired her idea to addressed another point of view towards our major. But then again, I just can’t stand with some of here outrageous idea. I’m not being rude but here it goes (NB: This article is also excerpt from some comments at her blog, in case you’re wondering).

Well, here’s a newsflash that I would like to address them: Life is not a fairytale, get used to it.

Firstly, I mean, come on! Can they hear themselves right now? All that junior do here is expressed their proud towards their alma mater! And all of the sudden, some of you using this opportunity to express their disappointments? And, some of them even addressed their derogatory comments to some of my lecture such as Mr. Bonggas Adhi Chandra.

Well, Secondly, I want to say something to one of them who was dissing some of our lecturers on Tephy’s blog:

“Mas Bonggas etc had done so much more to all of their juniors, while some of you had done nothing but whining about how cruel the world out there and suddenly blaming the handicaps your alma mater !”

I mean, when Ryan saying that he is proud about the accomplishment we get on PNMHII … surely, as a good alumni one should praised rather than gives unnecessary comments such as:

“and pls again, don’t mention PNMHII sbg pembanding yaaa,,, seriuss, ga ada apa2nya!!!!!!”

Even for a blog, I don’t see any means of give this comment other than so underrating his/her own alma mater.

And, the comment:
“mana nih yang bisa-bisanya bilang dosen yang gelarnya *beep!* itu bisa bikin garansi masuk deplu???? ngaca dong!”

Well, dude, do you even know the situations really are? If no, please don’t make such a lousy comment. Please, as an adult, we do know that one need to ensure themselves whether what they hear is true or not. And if you don’t know, don’t exaggerate.

The real world out there is really harsh, I know. But that’s why, some of us need something to hold on to and it’s called faith: which one of them takes form of our alma mater. If we don’t get a high self-esteem who can enhanced our spirit from our own alma mater … imagine how much harder life we face. Don’t be so judgmental on this case.

Thirdly, about the so-called “MUCH BETTER THAN YOU” part who’d maybe make people raised their eyebrows.

Some know well that it was just for the sake of good laugh. For those who exaggeratedly take this so personally that they even expressed their hatred (one-sided). Well, may God have mercy on their humorless soul.

And, as an attempt to add insult into an injury, I saw also another derogatory comment: Unpar got a “B” Accreditation.

Ah yes, about the question that Unpar is now get an “B” Accreditations

Well, I think the curiosity should instead addressed towards our governmental institution especially questioning their regulation to give “A”, “B” , “C” to some institutions.

What is the determination? Is it purely legitimized the quality of an institution? Go figure.

For example, one of the Int’l Relations Dept in Southern Part of Bandung has an “A” accreditation. Which is, questioned by some of their alumna since none of their methods of teaching are comparable to HI Unpar–and it is their own opinion that I quoted. (my brother went there, so in case you are wondering you can ask me personally).

So, I think we’d better also fairly questioning them instead babbling about how bad is our University.

Hmm, as a closing parts, I highlighted some of my rebuttal towards her comments on her blog:

“Oh, PLEASE yaaaa kawan-kawaaaan… Yuk mari yuk gw temenin lagi balik ke kelas BIHI buat belajar “Effective Reading.”

Comments: I got an “A” on BIHI, just for your information. And sorry if I sound so narcissistic, but I goes I did some justice on saying this instead of implicitly saying that you are stupid . (that’s her thing).

“In which point in my blog have I shown hatred towards Rean and his “fun fun we’re so young and silly and fun!” group?”

Comments: I did not only commenting on your hatred only but also some of commentators there. So, don’t mislead me. I get some point of your thoughts, but don’t blame for hoping rather mature talk for someone older than my age.

Well, about “shown hatred” things, I guessed point on second paragraph that symbolized your hatred:

“I swear I cannot muster up a proper reaction for about a milisecond, and then I felt this huge surge of disgust. Sure, it was probably made just for laughs and the person who set it up in the first place probably didn’t mean anything ill, but I can’t shrug off the feeling that I HATE the idea.”

And, uh, your comment below:
“Haven’t I mention that I KNOW that you guys are so fun and silly to come up with such group? Please ya, baca balik: I HATE THE IDEA. IDEA. Comprendo?
The IDEA that we could claim we are so much better without weighing in the indicators and see objectively. That IDEA is very petty and ignorant, and I’ll stop saying that when it stops screaming ignorance and pettiness.”

If you are so objective, well read your blog all over again. Newsflash: It’s not objective.

Lastly, after I read your part of comments which I quoted below:

“The “fun fun we are so young and fun” thing? I think not. Yeah, maybe I just became old and grouchy and so un-fun, SUE ME for having the balls to say what I think instead of just raising my eyebrows like others. “

I’m not going to sue you, that is so pointless. But then, sue me for addressing my opinion towards your opinion. I am not hating, people, but I guess someone need to be a little bit straightforward at this point:) Pardon my language.

→ 10 CommentsKategori: Campus Journal

The Political Aspects of JK Rowling’s Harry Potter Series

Desember 2, 2008 · & Komentar

I’ve been planning to write this article for AGES! See, as students in International Relations—and moreover, a fan of Harry Potter—I realize some of the political aspects within the series itself. Of course, I also do some research for the article and then I found out that there are at least two major political issues within Harry Potter Universe that can be related to the International Relations studies: The practice of ethnic supremacy and fascism. There are even some similar storyline between Harry Potter and Adolf Hitler regime in the past. In this case, Lord Voldemort (who acts as a villain throughout the series) has matched some points with Hitler.

 

According to JK Rowling, that some phrases that the readers viewed such as: ‘pure-blood’, ‘half-blood’ and ‘Muggle-born’. In fact could be compared to the real charts the Nazis precisely the same warped logic as the Death Eaters. “A single Jewish grandparent ‘polluted’ the blood, according to their propaganda,” added her. In the Harry Potter Universe, Lord Voldemort and his Death Eather alongside with some other believed that the blood-purity supremacy as their main agenda. This resembles the Nazi supremacy that the Hitler regime used to oppress the Jewish Community—as Voldemort regime oppress Muggles and Muggle-Borns.

Furthermore, there is one of minor-yet-interesting part of Harry Potter story. Narcissa Malfoy (nee Black), mother of Harry Potter’s school-enemy, Draco Malfoy was the youngest Black Sisters who married another pure-blood Lucius Malfoy (servant to Lord Voldemort). The oldest, Bellatrix Lestrange (nee Black) married to another pure-blood: Rodolphus Lestrange and yet become a Death Eater—Lord Voldemort army. Bellatrix Lestrange also become one of the most loyal servant to Voldemort and favourite of his. The middle-sister, Andromeda Tonks (nee Black) was disowned from The Black Family after marrying a Muggle-Born Wizard, Ted Tonks.

The part of the story is slightly similar to the Mitford sisters: Diana, Unity and Jessica. Narcissa Malfoy resembles Diana Mitford, who married Oswald Mosely—the loyalist of Adolf Hitler. While Unity Mitford resembled by Bellatrix Lestrange, as she become a fascist and close to Hitler. Jessica Mitford who had been admired by JK Rowling herself—resembled by Andromeda—as Jessica become one of the prominent prodigious writer who constantly criticize the Nazi movement.

 

The NAZI charts

The NAZI charts

 

 

JK Rowling also mentioned that her character Voldemort could be compared to paranoid megalomaniacs like Adolf Hitler. Hitler, as some of you may already know, is half-Jew—while Lord Voldemort, also a half-blood. The so-called feelings of betrayal that hits Hitler as a childhood and led his hatred towards Jewish community are quite similar with Voldemort’s hatred toward his Muggle father who abandoned his mother.

Lastly, I just like to give my kudos for Rowling’s effort to address her concern about related topics throughout the stories. In my humble opinion, her ability to draw a parallel between Harry Potter and past stories is excellent! Even for a children, she could tells us many moral stories toward her quite “simple” way of writing.


→ 5 CommentsKategori: International Relations Issue

Note About The So-Called ‘Berbesar Hati’

Desember 1, 2008 · & Komentar

Beberapa minggu terakhir ini cukup berat untuk saya. Beberapa hal harus saya hadapi, dan semuanya merupakan ujian bagi kedewasaan saya. Mulai dari tugas/paper yang tidak kunjung selesai, proposal skripsi, mata kuliah HI yang penuh dengan drama dan intrik (baca: Praktek Diplomasi), dan baru-baru ini, sebuah keputusan berat untuk meninggalkan tempat kerja. Pada masa seperti ini, saya bersyukur memiliki support system yang sangat baik—keluarga dan beberapa teman memberikan dukungan dan membuat saya mampu menempuh semua dengan sebaik-baiknya. But I’m not playing a tough guy, here! In fact, ada masa dimana saya berkata kepada diri saya sendiri: kapan semua masalah ini akan berakhir? Secara implisit, saya menyampaikan hal ini kepada salah satu dosen saya: Mas Bonggas.

Mengenai masalah-masalah yang saya hadapi, dosen ini berkata: Memang sudah saatnya. Mas Bonggas menyebutkan bahwa “masalah” merupakan ujian gratis yang seharusnya disyukuri. Apabila untuk menghadapi ujian akademis kita harus terlebih dahulu mengeluarkan segepok uang, maka “masalah” sehari-hari merupakan ujian gratis yang harus kita hadapi dengan lapang dada, besar hati. Karena, setelah “masalah” tersebut telah kita tempuh: saatnya naik kelas!

Dan akhirnya, satu persatu permasalahan tersebut berhasil saya hadapi dengan cukup baik: Satu persatu tugas paper saya selesaikan, Sidang Seminar berjalan dengan lancar (walaupun penuh revisi, but hey! Who doesn’t?), Prakdip telah terlewati dan apabila kalkulasi tidak salah saya mendapat nilai A … dan, saya berhasil mengundurkan diri baik-baik dari pekerjaan saya tersebut (easier said than done). Kunci lain untuk menghadap permasalahan tersebut, mengutip perkataan teman saya Ayu Prita ndiya Pertiwi: Berbesar hatilah! Walaupun banyak masalah, tapi saya rasa hati manusia cukup besar untuk menghadapi semua permasalahan tersebut.

Salah satu masalah yang belakangan ini berseliweran di kampus saya adalah mengenai kemungkinan mundurnya salah satu dosen tercinta kami. Terlepas dari segala upaya yang akan kami lakukan untuk menahan kepergian beliau—saya rasa kami semua juga harus siap untuk segala kemungkinan yang ada. Indeed, ini merupakan ujian besar bagi semua mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan. Kami harus menghadapi masalah tersebut dengan lapang dada dan berbesar hati.

→ 4 CommentsKategori: Campus Journal